‹‹ Kembali ke Arsip
30 Jun 13

Konferensi Internasional Kota Layak Anak Asia Pasifik III, 27-28 Juni 2013, Park Village, Kathmandu, Nepal

admin86care
Indonesian

Menyikapi pertumbuhan perkotaan, tahun 2050 diprediksikan 1dari 7 penduduk akan tinggal pada area perkotaan, kemungkinannya adalah lebih banyak lagi penduduk yang tinggal pada kampung kota (slum area), dimana sayangnya, 600 juta dari total penduduk kampung kota adalah anak-anak. Anak-anak ini akan tinggal pada tempat-tempat dimana memungkinkan terakumulasinya tindakan criminal, polusi, penyakit, ketidakadilan dalam hal kesempatan bekerja, fasilitas edukasi, kesehatan maupun hiburan. Hal tersebut menempatkan Sustainable Development menjadi inti dari agenda universal Post 2015 (berdasarkan United Nation report 2013, a new Global Partnership Eradicate Poverty and Transform Economies through Sustainable Development). Karen Malone, salah satu key note speaker pada konferensi ini menyatakan bahwa Pemerintah Kota dan Otoritas Lokal memiliki peran penting dalam pengelolaan Kota dan sustainable development dari kotanya. Lebih lanjut, pada saat ini, arsitek dan urban desainer juga memiliki pran penting dalam perencanaan yang terintegrasi dari kotamaupun kabupaten, dengan kesadaran dan sensitivitas terhadap kebutuhan dan hak anak di dalam kerangka Kabupaten/Kota Layak Anak. 

 

Lebih jauh lagi, saat mendiskusikan tentang anak dan sustainable development, keseimbangan skala kesaamaan maupun keadilan akses pada hal-hal yang dapat mengentaskan kemiskinan dan memberikan kesempatan penuh kepada anak untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak di dunia ini (Laporan UNICEF, a post-2015 World Fit for Children). Cetak biru Konvensi Hak Anak sudah ditawarkan dalam bentuk Pengembangan Berbasis Anak dimulai dari kebijakan hingga implementasi. Karen, Chair and Founder of Child Friendly Asia Pacific, juga menekankan bahwa sustainable development dimulai dari keamanan, keselamatan, kesehatan, dan edukasi yang baik untuk anak.

 

Selanjutnya konferensi mencakup beberapa topic yang didiskusikan pada skala yang lebih kecil termasuk tema-tema sebagai berikut: Child Friendly Local Governance, Child Protection and Accreditation, Child Friendly Learning Framework, Child Health well-being and sustainability.Penerapan pendekatan Appreciative Inquiry pada pengembangan Kabupaten/Kota Layak Anak diselenggarakan oleh Nepal School of Social Network, dimana peran aktif partisipan dalam merumuskan mimpi kolektif menjadi realitas, dimana secara gradasi melalui proses Valuing – Dream – Design – Action

 

Berjudul “Child Friendly City through Corporate Social Responsibility, from Policy to Action”, dipresentasikan oleh Marini Widowati, Program Director ars86care (Yayasan Arsitek86 Peduli) dibawah tema Child Friendly Local Governance. Dilatarbelakangi fiosofi bahwasanya “Manusia mengemban amanah sebagai pemelihara bumi” dimana diantaranya adlah tanggungjawab untuk transformasi dan perbaikan lingkungan. Lima klaster pemenuhan hak anak ( Hak sipil dan kebebasan, Hak Lingkungan Keluarga dan pengasuhan Alternatif, Hak kesehatan Dasar dan kesejahteraan, Hak Pendidikan Pemanfaatan Waktu luang dan kegiatan Budaya, dan Perlindungan Khusus) yang dielaborasi menjadi Ruang-ruang Influensial untuk Anak (Child Influential Space), dimana anak dapat tumbuh dan berkembang sepenuhnya. Ars86care menyasar peningkatan kualitas Ruang Influensial Anak, dimana peningkatan kualitas fasilitas Pendidikan Anak Usia Dini dan Ruang Bermain Anak menjadi target jangka pendek dan menengah, di bawah kerangkan inisiatif Kabupaten/Kota Layak Anak. 

 

Berlokasi pada area peri-urban kabupaten Demak, Jawa tengah, dimana merupakan salah satu area dengan populasi anak usia 3-6 yang cukup tinggi, dengan cakupan penyediaan fasilitas edukasi yang rendah, dalam setahun terakhir ini, tiga fasilitas PAUD milik desa sudah direnovasi sementara dua fasilitas PAUD sedang dalam proses. Partisipasi anak terintegrasi dalam proses dimulai dari assessment, design-construction-delivery, and monitoring – evaluation, dalam mengembangkan Sekolah yang Ramah untuk Anak dimana juga sekaligus menjawab isu perubahan iklim dengan mengimplementasi konsep arsitektur hijau dalam bentuk pemanfaatan maksimum ventilasi udara dan pencahayaan alami dalam desain, penggunaan sumber daya lokal, maupun penggunaan kembali material lama tanpa mengabaikan keselamatan dan keamanan anak. Beberapa pertanyaan menyangkut proses konstruksi hingga peran pemerintah dalam peningkatan kualitas fasilitas edukasi Anak Usia Dini dilemparkan ke forum. Lokal komunitas asalIndia menyatakan kebutuhan akan standard pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini dengan kualitas yang baik. Dari perspektif pendidik dan kepala sekolah komunitas asal Malaysia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas pengembangan fisik Pendidikan Anak Usia Dini dimana kebanyakan pemerintah lokal di Malaysia belum mengambil perannya. 

 

Secara keseluruhan mengenai akreditasi dan evaluasi Kabupaten Kota, Global City Indicator Facility (GCIF) dikembangkan oleh University of Toronto, John H Daniels Faculty of Architecture Landscape and Design, bekerjasama dengan Unicef mengembangkan indikator yang mencakup: City Services dan Quality of Life untuk kota-kota di dunia yang menjadi anggota GCIF secara gratis (Kota Jakarta dan Bogor termasuk dalam anggota).

30 Jun 2013