‹‹ Kembali ke Arsip
17 Sep 15

Odense, Kota Kelahiran Penulis Dongeng Legendaris HC Andersen, Menggambarkan Kerja Keras Menciptakan Ruang Bermain Ramah Anak untuk Publik

Indonesian

Seperti kota-kota di negara Scandinavia, kota Odense, memiliki penduduk mayoritas keturunan Viking ditambah kedatangan imigran mancanegara. Kota Odense merupakan kota terbesar di pulau Funen, dan merupakan kota ketiga terbesar di Denmark, negara kepulauan yang mirip Indonesia, terletak di sisi utara Eropa. Kota yang terkena empat musim ini, termasuk fall, winter, spring dan summer, bangga memiliki pendongeng anak-anak legendaris HC Andersen. Kota Odense, berpenduduk 172,512 orang (2014) atau kira-kira hampir sama dengan penduduk sekecamatan Kebayoran Baru di Jakarta sebanyak 141,714 orang (2010).

 

Secara geografis, kota Odense memiliki  sungai yang membelah kota. Alih alih menjadi kendala, sungai di tengah kota dijadikan pusat kegiatan kota, terutama untuk menampung kegiatan bermain. Komitmen kota ditunjukan dengan mengangkat visi kota “to Play is to Live”, tercermin langsung dari hadirnya 240 ruang bermain anak untuk publik. Selain mengadopsi tulisan putra daerah, HC Andersen “to Travel is to Live”, kota Odense juga menciptakan kesempatan warganya untuk berperan aktif dalam bermain, bereksperimen dan berinovasi.

 

Kota Odense saat ini adalah hasil pemikiran kembali terhadap sistem kesejahteraan manusia dengan partisipasi penuh warga kota. Atas keputusan bersama warganya, jalur tepian sungai sepanjang 7 km dibebaskan oleh pemerintah kota untuk kebutuhan ruang terbuka hijau kota. Jalur yang menerus sepanjang sungai dibuat cukup lebar menampung pengendara sepeda dan pejalan kaki. Pada zona tertentu sesuai bentuk lahan yang melebar, berbagai ruang bermain anak untuk publik tersebar, untuk melayani anak dari berbagai usia. Untuk anak yang lebih kecil, terdapat ruang bermain anak bertema kupu-kupu, bertema kapal, dan lain-lain. Ruang bermain untuk anak yang lebih besar, menampung kegiatan bermain yang lebih aktif, olahraga, terdapat beberapa lapangan terbuka untuk futsal. Untuk anak disabilitas terdapat ruang bermain dengan perlengkapan bermain ayunan khusus yang inovatif dan aman untuk anak berkebutuhan khusus. 

 

Area tertentu dibiarkan memiliki tanaman keras layaknya hutan kota, dan memberikan kesempatan pengunjungnya untuk melakukan kegiatan di alam bebas, namun keamanan tetap menjadi prioritas dengan menempatkan penerangan yang cukup. Disana sini terdapat pojok kursi taman, memberi tempat untuk duduk beristirahat, membaca buku, ataupun menikmati pemandangan tepian sungai. Beberapa pojokan ruang terbuka hijau berskala kota ini diisi karya seni pematung lokal. Karya seni yang terinspirasi dari dongeng ciptaan HC Andersen, kapal kertas lipat, bahkan mengisi sungai. Ingat cerita serdadu berkaki satu yang terbuat dari timah dan jatuh cinta kepada penari balet dari kayu? Setelah berkelana mengelilingi sungai kota dengan kapal yang terbuat dari kertas lipat lalu masuk ke dalam perut ikan, karena cinta yang mendalam, dapat kembali menemukan pujaan hatinya. Karya seni yang tersebar di kota Odense, berhasil menghidupkan kembali dongeng klasik karya penulis dunia, kebanggaan kota Odense.  

 

Akses untuk fasilitas penunjang seperti keran air minum dan toiletpun mudah. Toilet untuk publik berbayar dengan menggunakan coin dan tersebar bukan hanya di ruang terbuka hijau, namun juga di seluruh kota Odense, sehingga mudah dijangkau pejalankaki. Tempat parkir kendaraan, tempat parkir sepeda disiapkan pada area tertentu dekat dengan area aktivitas bermain. Lokasi penyewaan sepeda tersebar pula di beberapa tempat di kota ini, dimana orang bisa bersepeda dari satu pos ke suatu tempat dan meninggalkan sepedanya di pos lain tanpa harus kembali ke tempat semula. Beberapa area juga memberi tempat untuk pedagang kakilima dengan bentuk yang rapi dan teratur, termasuk pengelolaan sampah.  

 

Masih terngiang ketika Ratu Mary dari kerajaan Denmark hadir dalam konferensi internasional yang membahas Kota Layak Anak, disambung dengan ucapan salam dalam beberapa bahasa seluruh dunia termasuk “Selamat datang”. Delegasi penggiat Kota Layak Anak dari seluruh dunia datang dan bertukarpikiran selama tiga hari, di kota yang berasal dari kata Odin, dewa bangsa Nordic. Terima kasih kepada sponsor, Betty Pamuntjak dan Tore Nyberg serta Nina Mussolini – Hansson, yang telah mendukung keberangkatan ars86care foundation yang diwakili oleh Ir. Marini Widowati MA, MUD dalam mempresentasikan papernya berjudul “Child Friendly Early Childhood Education Provision Model in Child Oriented Development”, dan sekaligus melakukan observasi terhadap ruang untuk anak di beberapa kota di dua negara, Denmark dan Swedia. Keberhasilan Ruang Bermain Ramah Anak pada jalur ruang terbuka hijau sepanjang tepian sungai Odense tidak lepas dari peran pemerintah dan pemangkukepentingan terkait, terutama anak. Dimana partisipasi anak juga merupakan bagian penting dari proses pengembangan Ruang Bermain Ramah Anak ini. Barangkali ini jawabannya kenapa Odense menjadi contoh sukses praktik Kota Layak Anak di Eropa, dimana Child in the City Conference ke tujuh diprakarsai oleh European Network of Child Friendly City, bekerjasama dengan UNICEF dan pemerintah kota Odense, diselenggarakan [MW].

 

Ars86care foundation atau Yayasan Arsitek86 Peduli dimulai dari sekumpulan arsitek Indonesia yang peduli terhadap lingkungan dan ingin memperbaiki kualitas lingkungan untuk diwariskan kepada anak-anak. Ars86care adalah yayasan untuk anak, pendidikan, dan lingkungan yang teregistrasi dengan tiga program utamanya, termasuk Space to build, Words to Share, dan Value to Do. Membawa misi promosi dan menciptakan Ruang yang Ramah Anak dengan kualitas yang baik, ars86care komit untuk menciptakan lingkungan yang lebih baik untuk anak, masa depan bangsa Indonesia. Lebih jauh lagi, ars86care saat ini sudah bekerjasama dengan lebih dari 1,000 volunteer dari berbagai bidang ilmu sejak legalitas yayasan disahkan di 2007.

17 Sep 2015